Trustpilot
Jumat , 3 Desember 2021
”Iklan
”Iklan”Iklan ”Iklan
pilkades DAIRI 2021
Pilkades harus menjadi pesta demokrasi yang mengembirakan

‘ Togu-Togu Ro ‘ Beban Politik untuk Membawa Perbaikan di Desa 6 Tahun ke Depan

BACA SEBELUMNYA : Menuju Pilkades di Kabupaten Dairi

Istilah yang paling banyak dibahas di Dairi sekarang “Togu Togu Ro”. Apa sebenarnya Togu togu ro ini? Dalam istilah adat batak togu togu ro ini adalah uang yang yang diberikan oleh pihak parboru ke dongan tubu, hula hula dan dongan sahuta karena anak perempuan (boru) mereka akan menikah dan mereka mendapat tuhor ni boru dan sebagai bentuk kebahagiaan mereka mengundang dongan tubu, dongan sahuta dan juga hula hula  untuk merayakan bersama.

Tapi sekarang Togu togu ro lebih identik pada proses pemilu, baik di Pilkada, Pilpres, Pilcaleg dan juga pilkades yang sebentar lagi akan dilaksanakan di Dairi.setelah melalui beberapa tahapan dan saat ini sudah penetapan calon. Ada 227 calon yang akan bertarung  untuk memperebutkan 106 Kepala Desa di Pilkades se Kabupaten Dairi kali ini. Pertanyaan  kita adalah apakah mereka para calon  juga menerapkan pola Togu Togu ro, hanya dia dan Tuhanlah yang tahu juga Tim suksesnya.

Kita sangat berharap konsep Togu Togu Ro tidak berlaku di Pilkades kali ini walaupun kemungkinan itu selalu ada karena apa yang kita harapkan  tidak selalu sama di lapangan. Setiap calon berbeda pendekatannya dan setiap Desa juga sangat berbeda cara menghadapi konstituen selalu bisa dipengaruhi budaya dan kebiasaan di setiap Desa.

Togu Togu ro ini sebenarnya praktek money politik, dan ini sudah lazim dibicarakan jauh sebelum pemungutan suara dilaksanakan bahkan tak jarang dibicarakan di tempat tempat umum misalnya lapo dan tempat pertemuan lainnya. Banyak hal yang dibicarakan terkait Togu togu ro ini misalnya besar nominalnya dari calon A calon B dan C atau bahkan berapa kali kasih siram pertama dan siram berikutnya. Bahkan Togu Togu ro calon A harus lebih besar dari Togo togu ro calon B dan lain sebagainya.

Sebagai bentuk praktek politik uang tentu ini sangat berbahaya karena bisa memicu masalah di berbagai perhelatan demokrasi namun praktek uang ini persis seperti “kentut” wanginya ada tapi sulit membuktikan atau beritanya ada tapi sulit membuktikan siapa pemberi dan penerimanya. Bahkan jika kita mencoba bertanya siapa yang memulai praktek ini. Apakah calon atau konstituen? Sangat sulit juga menjawab karena jika kita katakan para calon. Banyak juga masyarakat yang tidak mau memilih calon yang memiliki kapasitas tapi kalau tidak punya dana besar sulit meraup suara “galang do mula ni harajaon”. Prinsip itu identik dengan kebiasaan kita dalam berpolitik.namun jika katakan dari masyarakat yang memulai nah banyak juga para calon tidak percaya diri menang kalau tidak dengan Uang dan tidak yakin dipilih kalau tidak memberi uang kepada konstituen. Jadi kalau melihat realitasnya kedua punya peran dan akan sangatlah sulit untuk mengubah kebiasaan itu jika tak dimulai dari keduanya.

Dari berbagai argumentasi disadari atau tidak disadari mengapa pembangunan di Desa misalnya sangat sulit berubah dan hampir kita tidak menemukan hal baru itu karena mahalnya biaya politik kita. Para calon dipaksa mengeluarkan biaya ratusan juta hanya untuk menjadi seorang kepala Desa dan ini akan jadi beban selama 6 tahun kepemimpinan kepala Desa terpilih, yang juga harus berpikir mengembalikan modal politik yang telah habis dan salah satu sumbernya adalah Dari Dana Desa.

Setiap Tahun Negara mengucurkan Dana Desa lebih dari 1 M per Tahun ke setiap Desa. Namun jika kita cermati dana sebesar itu tidak menghasilkan banyak hal. Infrastruktur yang dibangun juga tidak bagus bagus kali bahkan banyak sekali gagal tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, jadi kesannya hanya untuk penyerapan anggaran besar dan kadang dibiarkan tak terawat.

Tentu ini adalah buah dari kebiasaan buruk berpolitik kita,jika Togu Togu ro masih menjadi kebiasaan maka dapat kita pastikan pembangunan di desa akan berjalan lambat dan tidak sesuai harapan. Kita perlu pemikiran yang revolusioner  seperti  revolusi mental dan moral yang sering disampaikan oleh presiden kita jokowi.UU Desa no 6 Tahun 2014 adalah salah satu kebijakan revolusioner dimana pembangunan kita akan dimulai Dari Desa. Jika selama ini pembangunan berpusat di kota, dengan Undang -undang ini Desa diharapkan bisa membangun dirinya melalui anggaran yang besar dan juga wewenang yang lebih besar yang diberikan kepada Desa. Tapi bagaimana mewujudkan itu jika sekali lagi kita masih bertahan pada konsep Togu Togu Ro  dalam  politik kita.

Kita semua harus berbenah mari jadikan momentum pilkades serentak tanggal 25 November 2021 sebagai ajang pemilihan calon pemimpin yang betul betul mampu membawa perubahan. Menjadikan desa yang mandiri, berdaya dengan pengelolaan keuangan yang transparan  dan akuntabel,  dan itu  hanya terjadi jika  kita bisa mengubah kebiasaan kita dengan berpolitik  cerdas dengan memilih pemimpin yang baik dan punya kemampuan memimpin dan yang paling penting punya hati dan kemauan untuk menjadi parhobas(melayani). Jadilah pemilih cerdas,Tolak Togu Togu Ro (politik uang).

Penulis: Duat Sihombing

  • Aktivis dan pengamat sosial, saat ini menjabat sebagai Kepala Divisi Advokasi di Yayasan Petrasa

Editor: Novel M Sinaga

”Iklan”Iklan”IklanINVESTASI DAIRI POS

Tentang Novel Sinaga

Baca Juga

doa doa ditautkan masyarakat tolak tambang pt dpm untuk keberlanjutan hasil pertanian (3)

Doa-Doa Ditautkan Masyarakat Tolak Tambang PT DPM untuk Keberlanjutan Hasil Pertanian

DAIRIPOS, SILIMA PUNGGA-PUNGGA – Puluhan warga Desa Bongkaras, Kecamatan Silima Pungga-Pungga, Kabupaten Dairi melakukan doa …

dairipos pelantikan pejabat eselon di pemkab dairi

Ramai Hastag #KamiPadamu di Medsos saat Sekda Leonardus Diganti

DAIRIPOS, SIDIKALANG – Pasca pelantikan pejabat Eselon II di lingkup Pemkab Dairi, berbagai aplikasi medsos …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

”Iklan”Iklan