Kamis , 4 Maret 2021

CSR Inalum Sangat Membantu Perekonomian Para Penenun Ulos di Tengah Pandemi Covid-19

SIDIKALANG – Wabah Pandemi virus corona Covid-19 telah melemahkan sendi-sendi perekonomian di setiap wilayah yang ada di Indonesia. Salah satunya aktivitas ekonomi oleh para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) termasuk di sektor ekonomi kreatif dalam bidang kerajinan tangan.

Namun berbeda halnya di wilayah Kabupaten Dairi, terdapat satu desa yakni Desa Silalahi 1, Kecamatan Silahisabungan yang merupakan salah satu sentra produksi kain tenun yang masyarakatnya bergantung pada produksi kerajinan tangan berbentuk tenunan kain yang dikenal ‘ulos batak’ yakni Ulos Silalahi hingga saat ini berjalan meski di situasi sulit akibat wabah Pandemi Covid-19.

Meski produk tenun yang mereka hasilkan biasanya dijual untuk komoditas pesta, para penenun di tengah Pandemi tetap berproduksi meski acara pesta adat hampir tidak ada karena penerapan protokol kesehatan yang tidak memperbolehkan adanya pelaksanaan pesta adat (kerumunan massa). Lalu mengapa aktivitas penenun di Kecamatan Silahisabungan tetap berjalan dan berproduksi, berikut penelusuran tim redaksi Dairi Pos.

Produksi tenun Ulos Silalahi di Kecamatan Silahisabungan yang tetap berjalan, ternyata tidak terlepas dari peranan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Dairi yang melakukan pembinaan secara berkelanjutan terhadap para penenun binaannya yang ada di Kecamatan Silahisabungan. Di tahun 2019, Dekranasda Kabupaten Dairi mengajukan program eco-fashion yakni pembuatan Ulos sebagai produk fashion dengan pewarna alami yang ramah lingkungan dengan menggandeng PT Inalum sebagai perusahaan yang turut membiayai produk ini melalui bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) yakni tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat Kecamatan Silalahi, dimana wilayah Silahisabungan salah satu wilayah  yang berada di pesisir danau Toba yang merupakan wilayah penopang atas keberadaan perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan tersebut.

Atas program bantuan inilah, para penenun bisa terus berproduksi dan bekerja menghasilkan Ulos Silalahi meski di tengah masa sulit Pandemi Covid-19. Tidak hanya itu, para penenun mendapatkan pelatihan skill dari Merdi Sihombing, yang merupakan pihak ketiga yang membantu melakukan pembinaan terhadap para penenun agar produksi ulos yang dihasilkan lebih berkualitas dan lebih baik. Penenun mendapatkan pelatihan baik itu pembuatan warna alami dari tumbuhan endemik yang ada di Kecamatan Silahisabungan. Mendapatkan pelatihan pembuatan corak dan juga skill untuk menenun agar menghasilkan ulos yang lebih halus lagi, agar hasilnya bisa ditransformasikan menjadi bahan baku fashion, untuk pembuatan berbagai produk busana.

Dari penuturan para penenun, mereka mengaku sangat bangga atas perhatian dari Ketua Dekranasda Kabupaten Dairi, Ny. Romy Mariani Eddy Berutu dimana atas program ini, para penenun bisa tetap bekerja di tengah Covid-19 dan bisa tetap berpenghasilan.

Ropita Dewi Sihombing salah satu penenun yang terlibat mengaku sangat bersyukur atas adanya program eco-fashion yang dicetuskan oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Dairi, Ny. Romy Mariani Eddy Berutu kepada para penenun yang ada di Kecamatan Silalahi.

“Seandainya program ini tidak ada, bagaimana kami bisa memenuhi kebutuhan kami sehari-hari di tengah Covid saat ini, kami sangat bersyukur dan kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Romy,” ujarnya.

Dari program ini, berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh Dairi Pos para penenun mendapatkan Upah untuk satu lembar ulos yang dihasilkan sebesar Rp. 250.000, dan setiap penenun diberikan bahan baku benang dan juga bahan pewarna secara gratis. Dan hasil tenun yang mereka produksi juga langsung dibeli oleh pihak Dekranasda Kabupaten Dairi. 

Hasil tenun yang diproduksi inilah yang kemudian belakangan ini digunakan oleh Dekranasda Dairi untuk bahan promosi ke berbagai penjuru, untuk mengenalkan Ulos Silalahi. Karena Tenun Ulos merupakan kekayaan budaya yang tidak dimiliki oleh setiap daerah dan hanya dimiliki oleh daerah-daerah tertentu yang patut dibanggakan dan juga dilestarikan.  

Berbeda dengan penenun lainnya, ibu Leo Saragih salah satu penenun di desa Silalahi I yang ikut dalam program CSR ini mengaku setelah mendapatkan program ini dirinya akhirnya mengetahui berbagai jenis tumbuhan endemik yang tumbuh di tanah Silalahi bisa dijadikan bahan pewarna untuk benang tenun untuk kebutuhan pembuatan Ulos Silalahi, yang selama ini hanya menggunakan bahan pewarna kimia.

“Diawal program kami diajarkan oleh bang Merdi Sihombing (Yayasan Merdi), untuk pembuatan warna dari berbagai jenis tumbuhan yang ada di Silalahi. Misalnya anggir dan kunyit serta kapur sirih bisa menjadi bahan pewarna untuk benang ulos yang menghasilkan warna kuning, tayom untuk warna hitam. Kelapa muda untuk warna orange. ketapang yang menghasilkan warna abu-abu dan akar pohon Mengkudu bahan tanaman untuk warna merah, Daun Mangga bisa menghasilkan warna coklat serta Kulit Kelapa Muda yang juga menghasilkan warna kuning, semuanya tersedia di tanah kami tanah silalahi,” terang Saragih saat ditemui di desanya di Desa Silalahi 1, Kecamatan Silahisabungan,beberapa waktu lalu.

Ibu Saragih ini juga menyampaikan, dari pelatihan ini, ternyata banyak tumbuh-tumbuhan yang biasanya tidak terlalu berguna ternyata menjadi sangat bermanfaat untuk bahan pewarna benang tenun.

“Misalnya saja kulit kelapa muda yang selama ini hanya jadi sampah, bisa bernilai ekonomis, begitu juga ketapang yang merupakan tumbuhan semak dan ampas makanan ternak bisa dijual untuk program ini sebagai bahan pewarna.” terang Saragih.

Ibu Saragih juga menyampaikan, di tengah masa pandemi-Covid-19 ini program CSR ini juga sangat memberikan dampak kepada para ibu-ibu pengrajin yang ada di Silalahi, karena meski acara adat dan pesta ditiadakan, mereka tetap bisa menenun setiap hari, menghasilkan bahan tenunan Ulos Silalahi yang hasilnya tetap laku terjual dengan bantuan Dekranasda Dairi.

“Saat Covid-19 ini, kami tetap bisa menenun, kami diberikan bantuan alat tenun dan juga benang, serta hasil dari tenunan kami juga dibayar dan di bantu dipasarkan oleh Dekranasda, jadi tidak benar jika Program ini tidak bermanfaat,” jelasnya.

Sementara, Ibu Nanda boru Tobing, warga desa Silalahi 1 menyampaikan dirinya ikut dalam program ini karena merasa terpanggil karena ia tahu program ini akan bisa mengharumkan nama kampung halamannya Silalahi. Selain itu, ia yakin dengan program ini, budaya tradisional yang ada di Silalahi yakni tenun Ulos Silalahi tetap lestari.

“Saya bangga, Ulos Silalahi saat ini sudah dikenal sampai ke Jawa bahkan ke Luar Negeri saat ada pameran di Belgia, oleh Ibu Ketua Dekranasda Dairi, yang mengangkat hasil kerajinan ibu-ibu disini menjadi bahan busana dan fashion, karena selama ini, hasil tenunan kami hanya untuk pesta adat,” ujar Ibu Tobing yang ditemui saat manirat benang tenun.

Pretty Purba, yang merupakan koordinator dari para penenun Ulos Silalahi lebih lanjut menjelaskan, bahwa tidak benar jika program ini tidak berlanjut, karena menurutnya, hingga sekarang program CSR ini masih melakukan pemberdayaan bagi para penenun secara berkesinambungan, baik dalam hal pelatihan, pemberian bantuan benang, dan pembelian hasil produk dari para pengrajin atau penenun Ulos Silalahi.

“Kegiatan ini sudah berlangsung dari setahun lalu, dan berkesinambungan, bahkan penenun lain yang tidak ikut dalam program ini sudah mulai ingin bergabung, karena hasil tenunan mereka tidak terjual akibat tidak adanya pesta adat selama Covid-19, namun kami di tengah Covid-19 kami masih bisa terus berlanjut, karena program eco-fashion dimana hasil tenunan dari para penenun tidak hanya pembuatan Ulos untuk komoditas pesta adat, namun untuk bahan busana dan fashion.” terang Ibu Rizal.

Agnes Simanjorang, salah satu penenun yang ikut dalam program ini juga mengaku sangat senang terlibat dalam program ini. Dari pelatihan yang pernah ia ikuti yang diajarkan langsung oleh Merdi Sihombing, salah satu pakar tenun nusantara dirinya mengaku bahwa skillnya bertambah dalam hal pembuatan berbagai ragam dan motif dari hasil tenunan.

Agnes juga mengaku, sejak dirinya mengenal sosok Merdi Sihombing, wanita yang baru setahun menggeluti pembuatan tenun Ulos Silalahi sejak dirinya lulus sekolah dari SMA, dirinya semakin giat dan tertarik mempelajari lebih dalam tentang tenun Ulos Silalahi, agar nantinya bisa menjadi penenun yang profesional dan bisa melestarikan tenun Ulos Silalahi yang ada di kampungnya.

“Awalnya saya menenun, hanya untuk meneruskan jejak keluarga, dari pada harus merantau setelah lulus SMA. Namun setelah diajari oleh Bapak Merdi Sihombing, saya semakin mengetahui banyak cara membuat motif yang bagus dan indah yang tidak pernah saya dapat sebelumnya. Saya juga jadi ingin bercita-cita menjadi desainer seperti dia. Kalau bukan karena program ini, saya tidak mengenal berbagai motif baru dan menenun dengan benang yang halus sebagaimana yang diajarkan. Saya ingin program ini tetap ada agar kami bisa mendapatkan lebih banyak lagi pelatihan dari Pak Merdi,” ujar penenun yang baru berusia 20 tahun itu.

Sebagaimana yang diketahui, melalui program ini, dan bantuan CSR PT Inalum tersebut, berbagai capaian pun telah diraih dalam hal pengembangan dan promosi hasil tenunan para pengrajin Ulos Silalahi diantaranya dibawanya Ulos Silalahi hasil penenun Silalahi di Pameran Kriya Nusa 11-15 September  2019 di Balai Kartini Jakarta yang dibuka langsung oleh Ibu Negara RI. Di acara Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia yang bekerjasama dengan Duta Besar Belgia pada Eco Fashion Indonesia 2019  di Belgia, ulos Silalahi juga dipamerkan dan mendapatkan sambutan yang cukup baik dari para pengunjung. Begitu juga di Filantropi Eco Fashion Week 2019 Kuningan, Jakarta pada 2-3 November 2019 lalu, Ulos Silalahi hasil karya para penenun Ulos Silalahi, begitu juga Ulos Fest 2019 di Museum Nasional Indonesia, Jakarta 12-16 November 2019 ulos Silalahi dipamerkan.  Ulos Silalahi hasil tenunan pengrajin Ulos Silalahi juga dipamerkan di Eco Fashion Week Indonesia 3 (5 Desember sd 7 Desember 2019) di Sarinah Thamrin, Jakarta yang dihadiri oleh Menteri Desa PDTT, Jajaran BUMN dan Wakil Gubernur Sumut. Produk diversifikasi tenun silahisabungan yang dikerjakan oleh 25 orang penenun Silahisabungan juga dipamerkan di I Fashion Festival dan The Masterpiece 2019, Jakarta pada 11 Desember 2019. Bahkan dalam event itu Sere Kalina yang menjadi Host dalam acara itu yang merupakan peserta Miss Indonesia 2015 dengan bangga menggunakan pakaian berbahan hasil tenun penenun Silahisabungan.

Ketua Dekranasda Kabupaten Dairi, Ny Romy Mariani Eddy Berutu yang dihubungi Dairi Pos terkait program CSR PT Inalum ini menyampaikan bahwa pihaknya sudah merencanakan banyak kegiatan guna menciptakan program berkelanjutan dalam pengembangan Ulos Silalahi ini termasuk berbagai rangkaian kegiatan yang gagal dilakukan akibat munculnya Pandemi Covid-19. Menurut Romy Mariani seyogyanya pada bulan April yang lalu Dekranasda bersama mitra penjahit yang ada di kota Sidikalang sudah merencanakan untuk membuat produk baju dan produk jadi lainnya yang berbahan baku dari Ulos Silalahi hasil produksi penenun Ulos Silalahi untuk dipamerkan dan dijual pada acara pameran kerajinan terbesar di Jakarta yaitu Inacraft. Namun karena Covid-19 rencana tersebut batal.Akhirnya para penjahit diarahkan untuk membuat masker dan APD, dimana di awal-awal Pandemi Covid-19 barang-barang tersebut sulit didapat.

Selain itu rencana untuk membuat seragam panitia, Gubernur dan 33 Kepala Daerah  se Provinsi Sumut pada acara Teknologi Tepat Guna (TTG) yang seyogyanya dilaksanakan bulan Juli yg lalu di mana Kabupaten Dairi sebagai tuan rumah. Yang kemudian acaranya kembali gagal akibat wabah Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. 

Namun upaya untuk terus mengembangkan Ulos Silalahi oleh Dekranasda Kabupaten Dairi tidak pernah surut. Saat ini galery ulos dan toko oleh-oleh juga sedang dipersiapkan di Genung Nasional kota Sidikalang sehingga lebih memudahkan bagi tamu yang datang ke Dairi untuk membeli cinderamata khas Dairi diantaranya Kopi Asli Dairi, kuliner asli Dairi termasuk Ulos Silalahi yang akan dijual disana. Dekranasda bersama Dinas Perindagkop Kabupaten Dairi juga sedang merencanakan melakukan pemasaran secara online  Hasil Tenun Silalahi dan dalam waktu dekat dengan menjalin kerjasama dengan UMKM yang ada di Kabupaten Dairi dan Shopee Indonesia.

“Hal yang patut disyukuri, bahwa Bank Sumut  sudah memesan Tenun Ulos Silalahi untuk dijadikan sebagai seragam karyawan Bank Sumut yang ada di Kabupaten Dairi. Dalam susana Covid-19 ini juga, Dekranasda telah banyak membuat produk masker dari hasil tenun Silalahi, membantu pemerintah daerah untuk bersama-sama melawan penyebaran Covid-19 yang membagikannya kepada masyarakat di acara-acara tertentu,” pungkas Romy Mariani. (DP 02)

Tentang DP02

Baca Juga

Bupati Eddy Berutu Sampaikan Rancangan KUA Dan PPAS Tahun Anggaran 2021

SIDIKALANG – Bupati Dairi Dr. Eddy Keleng Ate Berutu menyampaikan Nota Pengantar rancangan Kebijakan Umum …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *